Gaya bahasa tulis seperti judul di atas, hampir setiap hari saya gunakan. Baik dalam bermesej/SMS, bermilis, chat, berkirim surat elektronik, menulis status di facebook, dan menulis postingan dalam sebuah forum diskusi. Bahasa tulis yang lewah atau berlebihan, setidaknya seperti itu saya menyebut gaya bahasa tulis saya. Tulisan yang menggunakan penggunaan huruf lebih banyak dari yang dibutuhkan, serta menambah atau mengganti huruf konsonan yang ada pada suatu kata.
Sejujurnya, saya bisa mengajukan banyak pembenaran atas gaya bahasa tulis saya tersebut. Diantaranya adalah alasan tempat penggunaan gaya bahasa tulis itu. Saya menggunakan gaya bahasa tulis tersebut pada media-media yang saya tahu dengan pasti siapa orang-orang yang ada di dalamnya. Mereka adalah orang-orang yang sudah saya kenal dekat atau saya anggap dekat. Memang biasanya mereka akan bertanya ketika ada kata-kata yang tidak mereka pahami maksudnya. Seperti, simakasih yang maksudnya adalah terimakasih, hu um yang maksudnya adalah iya atau ho’oh dalam bahasa Jawa, muup yang maksudnya adalah maaf, bubu yang maksudnya adalah bobo’ atau tidur, dan lain sebagainya.
Alasan lain yang saya ajukan sebagai pembenaran adalah refreshing. Bermain dengan kata-kata selalu menyenangkan bagi saya. Saya beberapa kali berkirim pesan dengan teman-teman saya melalui pesan singkat dengan menuliskan huruf-huruf dalam pesannya secara terbalik. Misal, ?tkJ d gnirehtag um dj gnamE ..gmS d hsm ,ayI yang maksudnya adalah Iya, msh di Smg.. Emang jd mu gathering d Jkt?. Sedikit konyol memang, karena kata-kata dalam bahasa pesan singkat biasanya memang disingkat-singkat dan itu pun masih saya balik huruf-hurufnya. Atau kebiasaan lain seperti mengganti semua huruf vokalnya dengan huruf “u”. Misal, Unuk uju, kuq judu uku yung ngurujuun.. Kurjuunku duh bunyuk, cubu guntuun hubungu yung luun.. Mungkun muruku busu hundlu.. yang artinya Enak aja, kok jadi aku yang ngerjain.. Kerjaanku dah banyak, coba gentian hubungi yang lain.. Mungkin mereka bisa handle.
Untuk penggunaan huruf di dalam sebuah kata yang jumlah hurufnya lebih dari yang sebenarnya dibutuhkan, maka sejujurnya bukan hanya saya yang suka melakukannya. Mesin pencari Google pun melakukannya. Ketika kita mengetikkan sebuah kata yang akan kita cari kemudian mengklik tombol “cari”, maka Google akan menggunakan huruf “o” yang banyak untuk menunjukkan halaman-halaman yang menampilkan hasil pencarian sebuah kata. Sehingga di bagian bawah web, kata yang tertulis tidak lagi “Google” melainkan “Gooooooooooooooooo…gle”. Saya rasa itu dilakukan Google untuk menciptakan sebuah ciri pada dirinya, karena seperti kita ketahui bersama mesin pencari di dunia maya bukan hanya Google. Dan tujuan itu pula yang bisa saya ajukan sebagai pembenaran, menciptakan sebuah ciri gaya bahasa tulis.
Gaya bahasa tulis lainnya yang sedang marak akhir-akhir ini adalah bahasa ikonik dengan menggunakan tanda baca atau huruf dalam memvisualisasikan sebuah maksud. Seperti, tanda baca titik dan kurung tutup yang menggambarkan senyum, atau tanda baca titik dan kurung buka yang menggambarkan kesedihan atau kemurungan. Dan bahasa ikonik ini ternyata sudah diterima oleh masyarakat awam di seluruh dunia. Bahkan ketika kita mengetikkannya di komputer atau saat menuliskan pesan di layar telepon genggam, tanda-tanda baca itu langsung diartikan dan diganti menjadi smiley.
Bahasa ikonik ini terus berkembang hingga muncul ikon-ikon lain seperti T.T yang maksudnya menggambarkan suasana hati yang sedih atau menangis, -_-“ yang maksudnya menggambarkan seseorang dengan keringat besar di wajahnya seperti pada komik-komik yang memvisualisasikan seseorang yang bingung, capek, atau tidak bisa memahami pendapat lawan bicaranya. Dan bahasa-bahasa ikonik seperti itu terus berkembang, hingga kemudian kita mengenal ikon-ikon q(^.^)p, \(^.^)/, o_O, dan lain sebagainya.
Belum lagi kebiasaan berbahasa campur-campur yang kini menjamur di masyarakat kita. Saat dimana kita merasa bahwa menggunakan bahasa asing adalah lebih prestise daripada menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Penggunaan bahasa Indonesia yang dicampur Bahasa Inggris dengan logat turis asing pun sempat dipopulerkan oleh seorang artis berdarah campuran Indonesia-Jerman. Hingga kemudian ada kalimat plesetan yang menyindir gaya berbahasa artis tersebut, “udah ujyan.. becyek.. nggak ada ojyek..”
Inilah ranah bahasa lisan dalam kehidupan sehari-hari kita. Walaupun dalam tulisan “Legalisasi vs Legalisir” disebutkan bahwa Bahasa Indonesia memberikan ruang bagi laras bahasa lain (bahasa lisan maupun bahasa daerah) untuk berkembang dalam habitatnya masing-masing, tetapi kebiasaan bahasa tulis seperti itu tidak lantas membuat kita terlupa dengan kaidah bahasa yang benar terutama dalam ranah bahasa ilmiah.
Bukan hanya butuh kesadaran, tapi juga butuh pemahaman. Pemahaman akan Bahasa Indonesia itu sendiri, mulai dari akar bahasanya, perkembangannya, hingga nasib masa depannya kelak di tengah bahasa-bahasa asing yang lain. Sehingga saat kita melakukan banyak kreasi terhadap bahasa lisan dalam keseharian, namun kita tetap mampu untuk memberikan jawaban yang benar ketika ditanya tentang bentuk baku sebuah kata atau bahasa. Otokritik bagi saya pribadi, semoga saya pun mampu melakukannya. Amin. (blog.akusukamenulis)



masih mending kayak gitulah…daripada Alay…
hahaha
susah banget dibaca soalnya…
tapi…
Alay bisa karena biasa…
hwahahaha…
LOL
XD
cieeeeeeeee..
miptah..
mewakili para alay nich,, (huruf “c”-nya tetap harus ikut dilafalkan..)
alay, anak lebay..
qeqeqe
coba nak miptah, tolong dituliskan disini contoh kalimat yang digunakan para alay^^
pertamax…………hahahah… panjangnya tulisanmu membuat ku malas membacanya dari awal sampai akhir fit..
aku baca paragraf terakhir aja ya?
hmm…. mungkin tulisanku ngga terlalu memperhatikan ini ya? tapi tak coba memperbaiki.
oh ya fit ada tugas dari dosen nih. kalimat ini benar atau salah ya? kalau salah benarnya gimana?
124 korban kecelakaan pesawat didaerah Tawangmangu belum juga ditemukan.
hehehe_
kalo tulisannya kepanjangan, nggak dibaca juga nggak dosa kok om..
terima kasih sudah membaca paragraf terakhirnya..^^
kadang memang kita tidak terlalu memperhatikan bentuk-bentuk bahasa yang benar dan baku,,
katakan saja saat menulis di blog,,
kita merasa bahwa blog hanya sebuah catatan, tidak lebih..
dan rasanya memang tidak bijak, jika kemudian sebuah catatan pun harus memiliki pakem yang sama dengan ragam bahasa ilmiah yang lain..
ya, empan papan saja om..
kita liat dulu tulisan itu akan kita letakkan dalam media seperti apa, dalam rangka apa, dan siapa saja pembacanya..
mencoba menjawab soal dari dosennya ya Om..
untuk struktur kalimat majemuknya sendiri menurutku sudah benar, dan kebetulan cuma menemukan satu kesalahan, yakni tentang penulisan “di”..
karena menunjukkan tempat, semestinya tulisan “di” dipisah dari “daerah Tawangmangu”..
124 korban kecelakaan pesawat di daerah Tawangmangu belum juga ditemukan.
CMIIW
^^v
^itulah khasnya fita..^
iya^^x
simakasih om tovicsky..
sip.sip setuju. kalau hanya ingin dikonsumsi sendiri atau setidaknya komunitas terbatas sih, sepertinya tidak terlalu perlu memperhatikan baku tidaknya tulisan.
tapi kalau tuk media sepertinya memang harus dan wajib.setuju fit..
oh ya kalaimat diatas udah dijawab ma dosen yg bener katanya.
penggunaan angka pada awal kalimat adalah salah. angka harus dirubah menjadi kata untuk awal kalimat itupun tidak boleh lebih dari 2 angka. jadi kalimat diatas tidak akan benar kecuali susunannya dirubah sehingga angka ada ditengah tidak diawal kalimat..
hehehe… pertanyaan jebakan ya? itu bentuk bakunya kata dosen.
yup..yup..
empan papan dalam berbahasa..
ummm,, kata dalam bahasa Indonesia yang satu arti dengan kata “empan papan” apa ya Om?
qeqeqe
wah, menarik!
aku lupa aturan penulisan itu..
yup! betul.. kalimatnya harus diubah (bukan dirubah om, karena kata dasarnya adalah “ubah” bukan “rubah”, hehehe_)
setauku untuk menulis angka dalam tulisan, hanya boleh dilakukan untuk angka yang lebih dari 2 digit.. karena kalau angka yang lebih dari 2 digit itu ditulis dengan tulisan (seperti “empat ribu lima ratus dua puluh”) maka akan memakan banyak tempat/ruang.
sedangkan untuk penulisan angka dua digit dalam tulisan, seperti “sebelas”, “sembilan puluh sembilan”, atau “delapan puluh satu” justru diharuskan.
kalau begitu, kalimatnya bisa diubah menjadi :
“Korban kecelakaan pesawat di daerah Tawangmangu belum juga ditemukan. Kecelakaan pesawat yang menelan korban sebanyak 124 jiwa itu, bla bla bla..”
Tidak harus memaksakan jadi satu kalimat kan om?
Yang penting informasinya tersampaikan, hehehe_
iyoa ajye dyehhhh
yang penting ngarti
*halah, susye juga ngetiknyah
pake bahasa Luwuk atuh, Bang..
biar awak belajar sikik-sikik..
hehehe_
^^v