Diakui atau tidak, frekuensi saya membaca dan menulis pascamenikah mengalami penurunan. Kalau dulu saya masih bisa meluangkan sekian jam untuk melahap buku dan ngeblog, sekarang, wuihhh.. baru sebentar duduk udah banyak intermezzonya. Hehe,, Butuh waktu memang untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas baru dan secara yah gak segampang membalikkan telapak tangan. Ibarat kata nih ya, kalau dulu duduk di depan layar komputer sampai bedug maghrib, bahkan gak tidur sampai pagi pun, kagak bakalan ada yang protes dah.. Nah sekarang, baru online sebentar akan ada seseorang yang pasang muka bete dan berkomentar, “Fesbukan melulu..”. Ehehew,,
Duduk di depan laptop memang identik dengan fesbukan, walaupun bisa jadi waktu itu saya justru sedang asyik berselancar di dunia maya dan baca-baca artikel sana-sini. Browsing tuh memang suka bikin lupa waktu dan asosial tentunya, hehe.. Akhirnya automatically, saya mengurangi interaksi dengan dunia maya sejak menikah. Kalau pun internetan, biasanya saya gunakan waktu luang ketika suami saya tidur siang atau asyik nonton bola
Tapi menulis dengan rentang waktu yang singkat di depan komputer cenderung sulit bagi saya. Bukannya bisa nyicil tulisan satu atau dua paragraf, yang ada malah bengong tanpa tahu harus mulai menulis dari mana. Penyakit writer’s block memang bisa menimpa siapa saja, bahkan ketika ide sudah ada di depan mata. Akhirnya saya mencari cara lain agar bisa tetap menulis tanpa harus bergantung lagi dengan laptop.
Dan akhirnya, taraaaaa..! Saya kembali ke era nondigital, menulis tangan di buku catatan.
Kapan terakhir kali menulis tangan? Ummm, di era yang serba digital seperti sekarang ini, frekuensi menulis tangan memang kalah dibanding dengan memencet tuts keyboard atau keypad handphone. Tapi uniknya nih ya, menurut beberapa penelitian, kebiasaan mengetik dengan menggunakan keyboard bisa berpengaruh pada menurunnya aktivitas otak yang berperan besar dalam fungsi pembelajaran. Wah, pantesan aja kalau di kelas bawaannya ngantuk melulu ya, kebanyakan ngetik tugas paper sih.. *alasanthok!*
Sebuah hasil studi menunjukkan bahwa menulis tangan lebih banyak mengasah otak daripada mengetik di atas keyboard. Profesor Anne Mangen dari Universitas Stavanger di Norwegia mengatakan bahwa kegiatan membaca dan menulis melibatkan sejumlah indra di tubuh sehingga mengasah kinerja otak. Menulis tangan membutuhkan waktu lebih lama daripada mengetik pada keyboard karena orang akan membuat bentuk huruf yang berbeda, ketebalan yang berbeda, dan tinggi huruf yang berbeda. Saat seseorang menulis dengan tangan, otak akan menerima feedback yang lebih kuat dari otot dan ujung jari dibanding mengetik dengan tuts keyboard. Hal ini mempengaruhi aspek temporal otak yang terlibat dalam bahasa dan mempengaruhi proses belajar.
Selain itu saat menulis tangan, gerakan yang terlibat meninggalkan jejak di bagian otak yang disebut “sensorimotor” dan dari proses inilah orang terbantu untuk mengenal huruf. Kondisi ini berkaitan dengan “haptic” yang mengacu pada proses menyentuh dan cara orang berkomunikasi dengan sentuhan, terutama dengan menggunakan jari-jari dan tangan untuk menjelajahi lingkungan. Hasil pemindaian otak pada orang yang menulis tangan menunjukkan bagian otak “broca” yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa lebih aktif. Kerusakan pada “broca”, misalnya pada kasus kecelakaan, bisa menyebabkan penderita sulit berbicara.
Proses otak ini ternyata hilang ketika orang beralih dari pena dan buku menjadi layar komputer dan keyboard. Profesor Virginia Berninger dari The University of Washington mengatakan bahwa penggunaan keyboard hanya menjalankan fungsi untuk memilih huruf hingga membentuk rangkaian kata. Sentuhan dan gerakan mengetik pada keyboard menghasilkan respons yang berbeda dalam otak, yang berarti tidak memperkuat mekanisme pembelajaran dengan cara yang sama.
Kini, proses belajar dengan mendikte semakin jarang diajarkan di kelas. Mesin fotokopi, ebook, dan budaya copypaste telah menggantikan keasyikan menari-nari di atas kertas bergaris untuk menyalin sebuah cerita atau pelajaran dari guru-guru. Lambat laun, karakter tulisan tangan masing-masing orang pun akan semakin hilang. Jika saat sekolah dulu, kita akan mudah mengenali tulisan seseorang melalui karakter tulisannya maka di era digital saat ini pengubahan jenis font bisa dilakukan siapa saja. Kalaupun ingin ditelusuri siapa sang empu tulisan keluaran mesin printer, maka itu bisa dilihat lewat gaya bahasa, diksi, maupun tata penulisan.
Maka tidak berlebihan kiranya jika A.S. Laksana setuju jika tanganlah yang paling dekat dengan otak sewaktu menulis. “Kamu ingin mengembangkan kreativitas? Dekatkan tangan kamu dengan otak kamu.” Memang ada anggota tubuh lain seperti mata, telinga, dan anggota tubuh lain yang berperan dalam aktivitas menulis. Namun tangan dan mulut adalah anggota tubuh yang paling cepat mengartikan sinyal-sinyal listrik pada otak.
Namun agaknya hasil penelitian tentang menulis tangan yang juga dituangkan dalam Journal of Cognitive Neuroscience ini akan bertentangan dengan kampanya go green para aktivis lingkungan. Walaupun masih bisa disiasati tentu saja, dengan memberikan kelonggaran penggunaan kertas dalam proses pembelajaran di sekolah.
Apakah Anda tertarik untuk mulai menggiatkan lagi aktivitas menulis tangan dalam keseharian? Maka saya pikir, tidak ada salahnya jika Anda memulainya pun ketika era digital telah mendominasi kehidupan. Tuliskan apa yang Anda rasakan dalam sebuah secarik kertas, kemudian potret tulisan tangan Anda, dan unggah hasil gambar tersebut dalam akun jejaring sosial. Nah, tampak makin galau bukan status fesbuk dan komentar yang Anda terima? Selamat mencoba!
(blog.akusukamenulis)


Reblogged this on sayaka.
thanks for reblogging..
semoga bermanfaat
betul sekali mbak! hahaha, makannya saya lebih suka nulis tangan dulu kalo bikin cerita, baru diketik
salam kenal
Salam kenal juga..
Terkadang waktu dan tempat membuat menulis tangan menjadi lebih fleksibel.. Meski harus dua kali kerja juga kalau musti mengetik ulang di komputer..