Siang itu, Mbok Emban naik becak pergi ke toko Koh Asan. Bukan beli kulkas, apalagi beli ase, tapi cuma mau beli setrika.
“Ah, mosok kipas angin saja kok larang bianget..”
“Haiyaaa.. Itu juga sudah mulah, coba tanya toko sebelah laaa..”
“Toko sebelah jual beras, bukan setrika! Wis, satus telulikur ya Koh?”
“Selatus empat puluh lima, itu juga owe ndak ambil untung. Ini balang bagus, dijamin awet..”
Mbok Emban tetap ngotot dengan harga tawarannya. Di pintu depan, sepasang muda-mudi masuk dan mendekati Koh Asan.
“Setrika kayak begini kan Sayang yang kamu cari?” kata sang pria muda sambil menunjuk setrika yang ditawar Mbok Emban. Wanita muda itu pun mengangguk manja.
“Yang ini berapa Koh?”
“Nanti dulu ya, mas..”
Koh Asan kembali pada Mbok Emban.
“Selatus tiga puluh lima! Owe udah ndak bisa ubah-ubah lagi..”
“Biar sama-sama enak, satus selawe!” Mbok Emban masih menawar.
“Oke, Koh. Saya ambil, seratus tiga puluh lima ribu!” jawab sang pria cuek.
“Nanti dulu, mas.. Ibu ini dulu,” jawab Koh Asan kembali sopan.
“Koh ini gimana tho? Jelas-jelas ibu ini maunya seratus dua puluh lima. Saya ndak perlu nawar-nawar, langsung deal dengan harganya!”
“Tapi ibu ini masih coba deal,”
“Oke, seratus lima puluh ribu, tunai! Setrika itu buat saya,” kini sang pria muda mengeluarkan dompet.
“Biar ibu ini dulu menyelesaikan pembeliannya, mas..”
“Koh ini gimana? Harga tawaran saya kan lebih tinggi dari Ibu ini. Daripada setrikanya ndak dibeli Ibu ini dan dianggurin begitu? Memangnya Koh nolak untung besar?”
“Begini ya mas, menawal balang itu juga ada etikanya. Kalau pacal mas saya minta untuk saya peristli, mas mau lepas juga? Saya bayar mas kawinnya dengan halga tinggi! Dalipada dianggulin begitu, cuma dipacali dan dipegang sana sini, mending saya nikahi. Halal bin thoyib, mau mbak?”
“Koh ini apa-apaan? Dia ini statusnya masih pacar saya, kok ditawari jadi istri?!”
“Nah, mas ndak suka kan? Sama dengan setlika ini. Hak menawalnya masih di Ibu ini. Jadi sebelum Ibu ini melepas haknya, mas belum punya hak. Walaupun halga mas lebih tinggi.”
“Huh! Toko apa ini? Ayo Yang, kita beli di mol saja!”
Dan Mbok Emban hanya melongo saja melihat muda-mudi itu melangkah pergi. (blog.akusukamenulis)
*terinspirasi oleh komik “33 Pesan Nabi : Buka Mata, Buka Telinga, Buka Hati”


dari pertama aku kurang ngerti,
tapi pas aku baca sampe terakhir .. wah.wah.. gak nyangka banget endingnya mengahrukan.. he…
wah, saya musti banyak belajar lagi niy..
biar tidak membingungkan pembaca..
terima kasih ya untuk masukannya,,
endingnya mengharukan ya?
baguuusss..
suka suka sukaa
pinjem komiknya dong….
*endingnya minjem*