Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2011

Belakangan ini saya kerap berpikir tentang kondisi yang melekat pada istri yang bekerja di luar rumah.  Bermula dari pengamatan teman-teman sejawat yang telah berkeluarga, kemudian berlanjut dengan mendengar curahan hati mereka dalam perannya sebagai istri atau ibu dari putra-putrinya.  Anda mulai ingin berkomentar tentang status saya?  Ya, saat tulisan ini dibuat saya memang masih menyandang status bujang.  Tapi salahkah saya jika memikirkan tentang kondisi kaum saya sendiri?  Kaum hawa yang menjejak mahligai perkawinan, berperan sebagai istri dari seorang lelaki, menjadi seorang ibu dari putra-putrinya, disamping semua peran lain yang juga tetap akan melekat pada dirinya sebagai seorang perempuan. (lebih…)

Read Full Post »


Sabtu kemarin, saat berburu buku di daerah Blok M Square secara tidak sengaja saya menemukan komik Nasruddin.  Bukan, bukan Nasruddin yang itu.  Tapi Nasruddin Hodja, tokoh cerita humor sufi dalam sastra Islam yang kisah-kisahnya masih terus hidup hingga sekarang.  Sebagian besar penduduk bumi mungkin sudah pernah mendengar kisah humor sufinya, hanya saja orang-orang tidak “ngeh” bahwa kisah “gila” itu bersumber dari kisah Udin yang satu ini.

(lebih…)

Read Full Post »

“Tadi waktu aku baca buku ini kayak ada yang motret-motret aku gitu..”
Saya yang geli mendengar kalimat itu sontak menunjukkan ekspresi tidak percaya.
“Beneran.  Buku-buku Pram kan terlarang..”
WAH!

*** (lebih…)

Read Full Post »

Oleh  :  Nurfita Kusuma Dewi

 

     Katakan yang benar meskipun itu pahit.  Agaknya pepatah lama ini benar-benar mencerminkan apa yang tengah dialami oleh Nyonya Siami, warga Tandes, Surabaya.  Maksud hati ingin mengajarkan kejujuran kepada putranya, AL, namun ia dan keluarganya justru mendapatkan hujatan bahkan pengusiran oleh warga desa tempat tinggalnya.  Apa pasal? (lebih…)

Read Full Post »

Tarawih Ngebut

Oleh  :  Nurfita Kusuma Dewi

Pagi ini Pak Emban sekeluarga tampak sibuk bersih-bersih rumah.  Susilo tampak mbubuti suket di pekarangan depan, sedangkan Pak Emban sendiri mengganti lampu penerang jalan yang ada di depan pagar rumah.  Mereka tidak sedang kerja bakti pitulasan, melainkan bersiap-siap menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

“Dah selesai..  Kalau lampunya diganti gini kan, orang berangkat subuhan ke masjid jadi lebih semangat.  Terang terus!” kata pak Emban sembari istirahat duduk di lincak. (lebih…)

Read Full Post »

CERIA.  Itulah satu kata yang bisa saya gunakan untuk menggambarkan isi buku ini.  Bagaimana bisa?  Buku yang mengisahkan tentang perjuangan seorang perempuan luar biasa menjalani hari-hari dengan katup ventrikel buatan yang ditanam di jantungnya justru dikatakan “ceria”?  Setidaknya itulah gaya bercerita yang disuguhkan oleh (mbak) Nurul, seorang pasien kardiologi permanen, dalam buku ini.  You are what you write, begitu kata orang.  Sikap dan cara berpikir seseorang akan nampak dalam goresan-goresan pena yang ditorehkannya.

Nurul di dalam buku ini tampak memilih untuk menikmati cobaan demi cobaan yang datang dengan seluruh tenaga yang ia miliki.  Meskipun ia harus menggunakan katup platina untuk menggantikan katup ventrikel kiri (katub bikuspid) jantungnya yang rusak, meminum obat pengencer darah sepanjang hidupnya, bolak-balik masuk rumah sakit dan ruang bedah, sampai cobaan dalam kehidupan rumah tangganya, Nurul tetap ceria dan tegar.  Dan sikap inilah yang sangat tampak dalam kisah-kisah yang ditulisnya dalam buku ini. (lebih…)

Read Full Post »


Oleh  :  Nurfita Kusuma Dewi

 

     Pak Emban yang sedang baca koran sore di lincak, dihampiri Mbok Emban dari arah dapur.

Diunjuk dulu Pak, ini ada juga bakwan yang baru saja Mbok beli dari Yu Sugi, tukang gorengan keliling itu.” kata Mbok Emban sambil meletakkan segelas kopi tubruk panas disamping piring gorengan di atas lincak.

“Wah, Bune ini emang top!  Paling tahu kesukaan Bapak waktu mendung-mendung begini.” jawab pak Emban sumringah sambil menyeruput pelan kopinya.

Mbok Emban pun tersenyum simpul mendengar pujian suaminya itu.  Dan senyum sore itu terhenti seketika saat Pak Emban melontarkan sebuah protes. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »