Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘akusukamembaca’ Category


Apa yang ada dalam pikiran mahasiswa STAN saat mendengar kata “book fair”? Senayan, buku, atau diskon gedhe-gedhean? Sudah menjadi hal yang mahfum memang jika momen book fair tiba, mahasiswa STAN akan beramai-ramai datang ke Senayan dan hunting buku disana. Ada rasa kepuasan tersendiri ketika buku yang selama ini diinginkan akhirnya dapat dibeli dengan potongan harga yang menggiurkan, walau harus berjubelan.

Kesimpulan apa yang dapat ditarik dari situasi ini? Mahasiswa STAN hobi baca buku? Mahasiswa STAN kutu buku? Mahasiswa STAN melek literasi? Ah, belum tentu.

Satu pertanyaan lagi. Apa yang ada dalam pikiran mahasiswa STAN saat mendengar kata “gedung P”? Perpustakaan, pinjam buku, denda buku, atau numpang lewat saja? Untuk perkara yang satu ini, sudah menjadi hal yang mahfum pula jika perpustakaan STAN selama ini sepi pengunjung, tidak menarik, bahkan beberapa (jika tidak bisa dikatakan banyak) yang belum pernah menjamah satu buku pun di perpustakaan baca lantai atas. Pinjam buku sih pernah, pun karena disuruh dosen atau menjelang ujian. Tapi datang ke perpustakaan atas inisiatif sendiri. Wah, itu masih kejadian langka!

Lalu, kesimpulan apa yang dapat ditarik dari situasi terakhir ini? Mahasiswa STAN tidak suka baca buku? Mahasiswa STAN antibuku? Mahasiswa STAN tidak melek literasi? Kan, lagi-lagi belum tentu. (lebih…)

Read Full Post »


Oleh  :  Nurfita Kusuma Dewi

     Tanggal 23 April merupakan hari istimewa bagi para pecandu buku.  United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) telah menetapkan tanggal tersebut sebagai World Book Day untuk memperingati kelahiran dan wafatnya William Shakespeare serta meninggalnya Miguel de Cervantes.  Momen tahunan ini seharusnya bisa dimaksimalkan untuk menularkan antusiasme membaca seluas mungkin di Indonesia. (lebih…)

Read Full Post »

“Dulu pernah hidup dua pemahat hebat.  Mereka terkenal hingga diundang Raja berlomba di istananya.  Mereka diberikan sebuah ruangan besar dengan tembok-tembok batu berseberangan.  Persis di tengah ruangan dibentangkan tirai kain.  Sempurna membatasi, memisahkan, sehingga pemahat yang satu tidak bisa melihat yang lain.  Mereka diberikan waktu seminggu untuk membuat pahatan yang paling indah yang bisa mereka lakukan di tembok batu masing-masing.” (lebih…)

Read Full Post »

Oleh  :  Nurfita Kusuma Dewi

I have imagined that paradise will be a kind of library.

Hanya seorang pencandu yang akan mengandaikan perpustakaan dalam bayangan sedemikian berlebihan.  Dan Jorge Luis Borges (1899-1986) adalah orang yang kelewat mencandu buku itu.  Borges dikenal sebagai pustakawan Argentina yang matanya nyaris buta karena kegilaannya dalam membaca.  Sebelum Borges, pernah ada pula pustakawan di abad 17 bernama Antonio Maglia-bechi dari Fiorentina yang juga mencandu dan menggilai buku.  Bagi mereka, menjadi penjaga perpustakaan adalah wujud dari sebuah kecintaan.  Perpustakaan tak ubahnya sebuah sinagog besar beraroma kertas yang khas dimana pengetahuan diikat dan dikumpulkan di dalamnya. (lebih…)

Read Full Post »

Bukan cinta namanya kalo loe nggak ngerasa sakit hati ada buku yang terkapar tak berdaya tapi loe cuek aja.  Bukan cinta namanya kalo loe nggak cemburu liat buku diduakan oleh lingkungan sekitarnya.  Bukan cinta namanya kalo loe nggak bertanggung jawab atas buku-buku yang udah loe ambil dan beli dari rak-rak bukunya. (lebih…)

Read Full Post »

Hmmm.. sudah seminggu lebih nggak ngeblog.  Akhir-akhir ini, pekerjaan memang “menggunung” dan cukup dibuat pontang-panting untuk menyelesaikannya.  Lelah?  Mmm.. bukankah lelah hanya boleh dirasakan oleh raga, tapi tidak dengan jiwa?

Waktu senggang pun kemudian lebih banyak digunakan untuk membaca.  Ya.  Membaca.  Sebenarnya apa arti kata “membaca”?  Apakah ketika seseorang memegang buku dan memelototi huruf demi huruf, itu berarti ia sedang membaca?  Ketika seseorang tampak seperti membaca, tapi pikirannya terbang kemana-mana, apakah orang tersebut (tetap) bisa dikatakan sedang membaca? (lebih…)

Read Full Post »

Tidak ada tulisan tanpa membaca. Saya mengambil ungkapan bijak itu untuk melanjutkan pembahasan saya dari postingan sebelumnya berjudul, Menulis sebagai Budaya. Seperti halnya menulis, membaca belum menjadi budaya dalam masyarakat Indonesia. Pun mungkin dalam kehidupan saya sendiri. Membaca masih sebatas sebuah kegemaran, namun belum menjadi sebuah budaya.

Lalu dimana letak perbedaan kegemaran dan budaya membaca? Kegemaran atau hobi hanya (lebih…)

Read Full Post »