Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘nyastra’ Category

Mazhab Cinta

Oleh  :  Nurfita K. Dewi

Dup!
Layar monitor itu seketika mati.
“Sial!” Sebuah umpatan keluar dari bibir tipisnya.  Lelaki itu kemudian berjongkok, meneliti satu demi satu kabel yang menjalar warna-warni di bawah mejanya.  “Bukan cuma Saleem, sekarang komputer busuk ini pun seolah ingin mendikte hidupku,” keluhnya berkali-kali dalam hati. (lebih…)

Read Full Post »

Pada Suatu Hujan

 

Oleh  :  Nurfita K. Dewi

 

sebermula adalah kabut;
     serba gaib serba gelap,
bercakap sunyi pada cuaca senyap
angin bergoyang tenang-tenang;
mengetuk bahu jendela serupa tawanan
di rahang langit, air meluncur menciumi bumi
tumpah ruah dalam wangi tanah yang tergantang;
tadi siang

maka malam ini adalah sendu;
merapat bayangbayang dalam kekata yang ditiru
menunggu di halaman; seonggok gelisah termangumangu
     “Bunuhlah ia, Kekasihku.”
aku pun menatap kelam lekat-lekat, ragu akan debam perseteruan
mengundang darah penghabisan
kau pun meriap, menghitung mundur suara di bawah sepatu
kemudian berkata pelan, serupa igauan  :
     “Tak apa Sayang.  Hujan telah datang.”

Read Full Post »

Oleh  :  Nurfita K. Dewi

.

Ini sudah surat ketiga yang ia terima.  Semua suratnya sama.  Berisi tiga kata  :  Aku-mencintaimu-dokter. Ketiganya ditulis dengan darah.  Sebuah nama Rima tertera.  Juga dengan darah. (lebih…)

Read Full Post »

Dokter Kecil

Oleh  :  Nurfita Kusuma Dewi

.

Hari ini Bu Guru menjelaskan tentang dokter kecil.  Awalnya aku tidak tahu apa itu dokter kecil.  Aku hanya tahu dokter gigi dan dokter hewan.  Karena penasaran, aku pun bertanya.

“Dokter kecil itu apa, Bu Guru?” tanyaku. (lebih…)

Read Full Post »

Surat

 

kau timangtimang lagi kertas polos di atas mejamu,

di sebuah kamar.  kau bacai lagi isi di dalamnya

merapalnya serupa doa

 

surat itu tentang dia

sang kekasih

yang dicipta

-direka

 

sebelah dirimu sadar

dia, yang kau reka,

tak pernah sedetik pun menyimpan

gambar wajahmu dalam ingatannya

 

tapi kau gagu

merekanya seolah semua

gerakgeriknya ditujukan kepadamu

serupa sinyal yang dikirim khusus

untukmu

 

kau bolakbalik kertas polos di atas mejamu,

di sebuah kamar.  tak juga kau temui

katanya, kalimatnya, tulisannya

 

berkata usai

sama artinya dengan membiarkanmu menghambur

bergangsing dalam lingkaran kosmik waktu

menyumbat sebuah perjalanan rasa yang dahsyat

berpilin-pilin dalam mosaik pilu

 

kini sebelah dirimu sadar

tak juga kau temui dia

sampai di titik terakhirnya

yang ada hanya sejumput kamu

mendamba untuk berdiskusi dengan wangi kertas

-tentang dia dan dirimu

 

(blog.akusukamenulis)

Read Full Post »

Jarak di Atas Kertas

 

mengapa harus ada jarak?

-kau bertanya satu waktu

 

ambillah kertas dan menulislah

-jawabku mengikuti tanyamu

 

aku bertanya tentang jarak!

-protesmu

 

aku  menjawab dengan kertas

-kilahku

 

kujejalkan huruf-huruf pada kertas

dan kau diam memberengut sudut

 

lihat

seindah apapun huruf yang berjejal

tak akan ada artinya tanpa jarak

huruf membutuhkan jarak untuk terbaca

membutuhkan ruang untuk jeda

– jawabku

 

kau tetap diam

mata menyipit tersudut

 

dan aku membutuhkan gerak

agar tidak terbebat di dekatmu

aku membutuhkan jarak

untuk bisa membacamu

dan cinta butuh jeda

agar tercipta ruang untuk rindu

-sambungku

 

kau tetap diam

memandangku

mengambil kertas dan menyodorkan tulisan kepadaku

 

terbaca:

ya!

aku pun membutuhkan jarak

untuk bisa melihat beningnya matamu

terpisah rembulan di depanku

 

(blog.akusukamenulis)

Read Full Post »

Sore di Kota Atlas

Oleh  :  Nurfita Kusuma Dewi

 

Langit sore di atas kota Atlas tengah mendung.  Angin bertiup kencang menghembus daun-daun dan sampah kering di pinggir jalan.  Dengan tangan bersedekap, orang berjalan bertambah-tambah cepat.  Setengah enam belum juga terlewat.  Tapi langit sore ini memang gelap. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »