Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘psikologi menulis’ Category

Diakui atau tidak, frekuensi saya membaca dan menulis pascamenikah mengalami penurunan. Kalau dulu saya masih bisa meluangkan sekian jam untuk melahap buku dan ngeblog, sekarang, wuihhh.. baru sebentar duduk udah banyak intermezzonya. Hehe,, Butuh waktu memang untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas baru dan secara yah gak segampang membalikkan telapak tangan. Ibarat kata nih ya, kalau dulu duduk di depan layar komputer sampai bedug maghrib, bahkan gak tidur sampai pagi pun, kagak bakalan ada yang protes dah.. Nah sekarang, baru online sebentar akan ada seseorang yang pasang muka bete dan berkomentar, “Fesbukan melulu..”. Ehehew,, (lebih…)

Read Full Post »

Menulis itu Menyehatkan

“Saya dulu seperti kerang kosong yang berjalan.  Menulis  membuat saya merasa punya jiwa.”  — John Mulligan

John Mulligan (49) dikenal sebagai seorang veteran yang berhasil menulis sebuah novel.  Pengalaman di medan perang ternyata membuat kondisi psikisnya terganggu.  Hingga suatu kali, ia mendapat kesempatan untuk mengikuti workshop menulis Maxine Hong Kingston.  Maxine menganjurkan kepadanya untuk mengungkapkan semua pengalaman traumatis dalam bentuk tulisan.  Dan siapa yang pernah menyangka bahwa Mulligan akhirnya mampu berdamai dengan dirinya, memindahkan pengalaman buruk selama di medan perang ke dalam tulisan. (lebih…)

Read Full Post »

“My JOB isn’t my CAREER”.

Pfffyuhhh..  ada sebuah kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi dalam kehidupan setiap manusia.  Saat pekerjaan yang kita miliki tidak sepenuhnya mampu memberikan timbal balik seperti yang diharapkan.  Bukan sebatas perkara materi, kesempatan belajar, dan jalan mulus untuk menapaki jenjang jabatan struktural. (lebih…)

Read Full Post »

 

 

“Aku melakukannya untuk memenuhi kebutuhan berpikir”  -Einstein-

Alasan itu pula lah yang saya gunakan untuk kegiatan membaca dan menulis yang suka saya lakukan.  Ibarat bejana berhubungan, otak kita menampung banyak informasi setiap harinya (melalui kegiatan mengamati, mendengarkan, dan merasakan) dan butuh penyaluran atas informasi yang kita terima tersebut.  Apa jadinya jika otak, yang kita ibaratkan bejana berhubungan itu, hanya “menerima” informasi setiap harinya terus menerus, tanpa ada saluran “pembuangan”.  Tentu saja, bejana itu akan penuh dan bukan hal yang mustahil akan tumpah. (lebih…)

Read Full Post »

 

 

Saya suka menulis sejak kecil.  Alasannya sederhana.  Saat ada hal-hal yang tidak ingin saya ceritakan pada orang lain dan saya memilih untuk menyimpannya sendiri, maka saya akan menulis apa yang saya inginkan, rasakan, atau pikirkan.  Tujuannya sederhana, agar perasaannya lebih plong.

Entah tulisan-tulisan itu sekarang ada dimana.  Seingat saya, dulu saya sempat memiliki buku diary, walaupun tidak setiap hari saya menulis disana.  Kemudian sewaktu kecil, seingat saya lagi, ketika saya ingin menulis tentang suatu hal maka saya kadang mengambil kertas buffalo berukuran 20 cm x 20 cm yang sudah tidak terpakai milik Bapak.  Selesai menulis saya sobek-sobek kertas itu dan saya buang.  Selesai,pikir saya.  Yang penting sudah menuangkan semua uneg-uneg di hati dan pikiran saya. (lebih…)

Read Full Post »