Feeds:
Pos
Komentar

Beberapa hari yang lalu sebuah surat masuk ke inbox surel. Ternyata dari redaksi sebuah koran nasional yang bermarkas di kota Jakarta. Isinya tentang “tanggapan” atas kiriman tulisan resensi yang sempat dikirim ke koran tersebut. Sebelumnya, saya memang mengirim sebuah tulisan resensi ke koran tersebut. Namun setelah beberapa hari ditunggu dan resensi tidak kunjung dimuat, maka saya berinisiatif untuk merombak tulisan tersebut dan mengirimkannya kembali. Sayangnya, pasca dirombak ulang, resensi yang saya kirim pun tidak juga dimuat. Saya sempat penasaran apa sebab musabab tulisan itu tidak kunjung dimuat, karena bulan Agustus 2011 yang lalu saya hanya menunggu satu hari sampai kiriman resensi dimuat di koran tersebut. Hingga akhirnya di satu hari, rasa penasaran itu terjawab lewat kiriman surat elektronik sang redaktur koran. Lanjut Baca »

Oleh : Nurfita Kusuma Dewi

Rencana Lady Gaga, penyanyi kontroversial dari Negeri Paman Sam, mengadakan konser di Jakarta pada 3 Juni mendatang terus menjadi tema “seksi” yang dibahas di berbagai media massa. Pro-kontra terus saja bergulir, sampai-sampai masyarakat Indonesia seolah terbagi menjadi tiga kubu yang saling berlawanan dalam menanggapi kedatangan sang superstar. Lanjut Baca »

Seperempat Abad

 

 

Oleh : Nurfita Kusuma Dewi

 

Krisis kepercayaan yang melanda masyarakat terhadap kinerja aparat pemerintah yang tidak pro rakyat kian memprihatinkan. Berbagai pemberitaan media massa yang menyuguhkan keburukan dan kegagalan pemerintah hanya bisa ditanggapi rakyat dengan menggeleng-geleng kepala, kecewa, marah, sampai kemudian pasrah dengan kondisi yang ada. Hal ini diperparah dengan fabrikasi media yang seolah-olah menggambarkan bahwa seluruh sistem reformasi birokrasi di Indonesia adalah buruk dan runtuh. Blow up media massa tentang isu-isu politik tertentu dan komentar-komentar para “pakar” yang terus mengkritik kinerja birokrat menutup prestasi yang tengah dibangun oleh pemerintah. Lanjut Baca »

The Next Step!

Hari terakhir kuliah.

Dan sejujurnya sudah sejak sekitar dua minggu yang lalu saya dilanda kegalauan. Bukan karena siapa-siapa, tapi karena rutinitas kuliah di kampus ini akan segera berakhir. Huft, tampaknya waktu belajar dua tahun itu akan berlalu sangat cepat. Rasa-rasanya baru kemarin merasakan kegirangan bisa balik lagi ke kampus, eh, sekarang udah mau skripsi saja. Berarti benar kata Oom Einstein, waktu itu memang relatif. Lanjut Baca »

Seni Membaca Buku

 

 

 

Judul                :     The Art of Reading, Mengapa 90% Buku yang Dibeli Tidak (Habis) Dibaca
Penulis              :     Agus Setiawan
Penerbit            :     Gramedia Pustaka Utama
Terbit               :     Maret – 2012
Harga               :     Rp 48.000

 

     Apakah Anda pernah membeli buku tapi ternyata buku itu tidak terbaca dan hanya teronggok di sudut kamar? Bahkan masih terlindung plastik pembungkus dengan rapi? Survey yang dilakukan oleh sebuah penerbit besar di Amerika menunjukkan bahwa 90% buku yang dibeli tidak dibaca lebih dari bab 1. Sebagian besar orang yang mengaku hobi membaca tampaknya memang telah beralih hobi. Dari hobi membaca buku menjadi hobi membeli buku. Lanjut Baca »

Kemarin sore, untuk pertama kalinya saya nyoba jus sawi sebagai pendamping makan. Keberanian “minum sawi” ini dipicu (emang bom???) oleh rekomendasi para anggota Pasukan Merak yang mengatakan bahwa jusnya enak. Maka makanlah saya di Bebek Goreng Sambal Ijo dengan memesan jus Sanapis.

Waktu baca daftar menunya, saya sempat menebak-nebak apa singkatan dari “Sanapis” ini. Lanjut Baca »